Titik Banjir Jakarta

Titik Banjir Jakarta

Pada musim hujan, air dapat menggenangi sudut-sudut kota Jakarta atau bahkan membenamkan jalan-jalan jika jaringan pembuangan air tidak dikelola secara benar. Di bawah kondisi ini, sebagian jalan kota akan tidak berfungsi secara normal. Kalau lalu-lintas di atasnya masih dapat bergerak, arusnya akan lambat karena kendaraan mesti berbagi tempat dengan air. Kalau tidak bergerak sama sekali, akan ada pengalihan lalu-lintas ke tempat-tempat lain. Mudah dibayangkan bahwa, dalam situasi seperti itu, jalan-jalan yang masih bisa berfungsi bakal terlihat seakan-akan menyempit seperti leher botol karena harus menampung limpahan kendaraan pada tingkat yang tidak sesuai dengan kapasitasnya.

Fenomena banjir dapat pula dirujuk sebagai akibat disharmoni fungsi ruang. Di sini, yang muncul adalah penggunaan lahan secara tidak proporsional atau tidak berimbang untuk membangun jaringan-jaringan prasarana. Paling tidak, penataan saluran air yang melintasi kota terkesan dinomorsekiankan sehingga, pada musim penghujan, jalan-jalan di Jakarta selalu tergenang. Pada curah hujan yang sebetulnya terkategori normal pun, air sudah menjadi melimpah dan luber ke luar dari saluransaluran pembuangan dan mengalir ke mana-mana. Ketika jalan tertutup air, kemacetan tak tercegah. Ketika jalan-jalan strategis kena banjir, kemacetan total ala insiden April 2007 pun menjadi tak terelakkan. Dalam peristiwa ini, lalu-lintas di seluruh Jakarta dapat dikatakan tak bergerak sama sekali selama 3 sampai 6 jam.

Hingga Kamis (17/1) pagi tadi, Polda Metro Jaya mencatat ada 327 titik banjir dengan ketinggian air rata-rata 70 cm hingga 3 meter. Berikut data tersebut disampaikan oleh Rikwanto.

1. Jakarta Selatan terdapat 39 titik, diantaranya:
- Bukit Duri ketinggian air 175-260 centimeter.
- Kebon Baru dengan ketinggian air 100-150 centimeter.
- Kelurahan Rawa Jati (30 cm-2 m)
- Kelurahan Pengadegan (30 cm-1 m)
- Cipulir (100 Cm)
- Pondok Pinang (180 Cm)

Korban banjir diungsikan ke Masjid Attahiryah dan mushola.

2. Jakarta Barat terdapat 161 titik, diantaranya:
- RW 01,02, 07 dan 10 Kampung Duri (100 Cm)
- RW 07 Srengseng (100 Cm)
- RW 09 Kembangan Selatan (100 Cm)
- RT 07/01 Kembangan Utara (115 Cm)
- RT 09-11 RW 04 Kembangan Utara (150 Cm)
- RW 03, 05 Duri Kepa (100 Cm)
- RT 01-12 RW 07 Kebon Jeruk (100 Cm)
- Sukabumi Selatan (100 Cm)
- Glodok (100 Cm)
- Duren Tiga (100 Cm)
- Depan SPBU Tanjung Duren (100 Cm)
- Depan Trisakti (100 Cm)
- Depan Indosiar (100 Cm)
- Jalan Tubagus Angke Wijaya Kusuma (100 Cm)

3. Jakarta Timur, 9 titik
- Kelurahan Gedong (100-200 Cm)
- Kelurahan Bale Kambang (1-3 M)
- Kelurahan Cililitan (1-3 M)
- Kelurahan Cawang (1-2,5 M)
- Kelurahan Kampung Melayu (30 cm-250 cm)
- Kelurahan Bidara Cina (1-2 M)

Korban banjir mengungsi ke pengungsian di Gedung Nindya Karya, Jl MT Haryono.

4. Tangerang Kota ada 9 titik banjir, diantaranya
- Kelurahan Gembor Perum Total Persada (2,5 M)
- Kelurahan Alam Jaya Perum Purati (1 M)
- Kelurahan Priuk Peruk Priuk Damai (2 M)
- Perum Mutiara Pluit (1 M)
- Perum taman Elang (1 M)
- Kelurahan Kebang Raya Perum Green City (1 M)
- Kelurahan Pedurenan Perum Ciledug Indah (1 M)

Korban mengungsi di Masjid Mujahirin dan SDN Gembor.

5. Tangerang Kabupaten ada 21 titik, terdiri dari:
- Kampung Alar Pakuaji 70 Cm
- Kampung Agung, Tigaraksa (70 Cm)

6. Bekasi Kota, 45 titik diantaranya
- Rel KA Jl Raya Teluk Pucuk (1 M)
- Kaliabang Tengah (90 Cm)

7. Bekasi Kabupaten terdapat 5 titik banjir, diantaranya Tambelang Desa Sukawangi, Sukamekar (50 Cm).

sumber: detik.com